JEMBER – Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan berdampak pada ribuan warga di 10 kecamatan. Pemerintah Kabupaten Jember resmi menetapkan status tanggap darurat guna mempercepat penanganan dan pemulihan pascabencana.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, banjir berdampak pada 7.445 kepala keluarga yang tersebar di 23 desa. Ratusan warga sempat mengungsi ke lokasi yang lebih aman akibat luapan sungai yang merendam permukiman dengan ketinggian air mencapai 1 hingga 1,5 meter.
Wilayah terdampak antara lain Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, serta Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan. Kawasan tersebut berada di sepanjang daerah aliran Sungai Bedadung dan Sungai Dinoyo yang berhulu di Pegunungan Argopuro.
Satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat tersengat arus listrik saat membersihkan rumah pascabanjir.
Bupati Jember, Muhammad Fawait, menyampaikan bahwa status tanggap darurat ditetapkan sejak 12 hingga 26 Februari 2026.
“Status tanggap darurat kami tetapkan untuk mempercepat penanganan di lapangan. Keselamatan warga menjadi prioritas utama,” ujarnya Senin (16/2/2026).
Pemkab Jember bergerak cepat melakukan evakuasi, mendirikan posko pengungsian, serta menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak. Koordinasi lintas instansi juga dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Selain penanganan darurat, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah pemulihan, termasuk perbaikan tanggul, normalisasi aliran sungai, penguatan sistem drainase, serta perbaikan infrastruktur yang rusak.
Saat ini, kondisi banjir dilaporkan berangsur membaik. Air telah surut di sebagian besar wilayah terdampak dan warga mulai kembali ke rumah untuk melakukan pembersihan.
Mengantisipasi potensi cuaca ekstrem, Pemkab Jember mengimbau masyarakat tetap waspada. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan lebat disertai angin kencang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menangani dampak darurat, tetapi juga memperkuat mitigasi dan membangun infrastruktur berkelanjutan guna mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
( red)
