BANYUWANGI – Ketua Panitia Peringatan Isra Mikraj Desa Parangharjo, Muhammad Hadiyanto, memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya rekaman video aksi seorang biduan yang bernyanyi dan berjoget di atas panggung acara keagamaan di wilayah Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Klarifikasi ini disampaikan guna meluruskan persepsi publik terkait peristiwa yang terekam pada Sabtu (17/1/2026).

Hadiyanto menegaskan bahwa aksi musik tersebut sama sekali bukan bagian dari rangkaian utama acara peringatan hari besar Islam tersebut. Menurutnya, penampilan hiburan itu berlangsung jauh setelah seluruh rangkaian acara resmi berakhir dan lokasi telah sepi dari tamu kehormatan.
Murni Hiburan untuk Panitia
Dalam keterangannya, Hadiyanto menjelaskan bahwa saat biduan tersebut naik ke panggung, seluruh undangan telah bubar dan para kiai serta tokoh agama yang mengisi acara sudah tidak berada di lokasi. Aksi tersebut bersifat spontanitas yang ditujukan khusus untuk menghibur jajaran panitia yang tengah bekerja keras melakukan proses pembersihan atau “bersih-bersih” lokasi pasca-kegiatan.
“Perlu kami luruskan bahwa kejadian tersebut berlangsung setelah acara benar-benar usai. Semua undangan dan para kiai sudah meninggalkan tempat. Hiburan itu murni untuk menyemangati rekan-rekan panitia yang sedang melaksanakan bersih-bersih setelah kegiatan yang cukup menguras tenaga,” ujar Muhammad Hadiyanto.
Permohonan Maaf dan Evaluasi
Pihak panitia menyadari bahwa beredarnya video tersebut tanpa konteks waktu yang jelas dapat menimbulkan kegaduhan dan ketidaknyamanan di tengah masyarakat, khususnya bagi warga Desa Parangharjo. Mewakili panitia, Hadiyanto menyampaikan permohonan maaf jika hal tersebut dianggap kurang patut.
“Kami memohon masyarakat untuk memahami situasi yang sebenarnya dan memaafkan kejadian ini. Tidak ada niat sedikit pun dari panitia untuk menodai kesakralan acara peringatan Isra Mikraj,” tambahnya.
Harapan Kedepan
Insiden ini menjadi bahan evaluasi penting bagi jajaran panitia di Desa Parangharjo agar ke depannya lebih berhati-hati dalam menjaga marwah acara keagamaan, bahkan setelah acara inti selesai. Tokoh masyarakat setempat berharap klarifikasi ini dapat mendinginkan suasana sehingga kerukunan warga tetap terjaga di awal tahun 2026 ini.
( laili)
