Jember – SMA Negeri Tanggul 2 terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Melalui pemanfaatan lahan sekolah yang terbatas, sekolah ini mengembangkan sistem akuaponik dan tanaman buah dalam pot (tabulampot) sebagai media pembelajaran sekaligus upaya nyata mendukung ketahanan pangan.

Kepala SMA Negeri Tanggul 2, Siswo Suryono, S.Pd., M.Pd mengatakan bahwa Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan merupakan upaya mendorong lahirnya inovasi sekolah yang berdampak langsung bagi warga sekolah.
> “Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran seluruh warga sekolah, baik guru, tenaga kependidikan, maupun siswa, tentang pentingnya ketahanan pangan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga ruang praktik dan inovasi yang bisa dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem akuaponik dipilih karena memadukan budidaya ikan dan hidroponik dalam satu ekosistem berkelanjutan. Limbah dari kolam ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman, sehingga tercipta sirkulasi yang efisien dan ramah lingkungan.
> “Akuaponik ini kami kembangkan sebagai penerapan pembelajaran berbasis STEAM. Siswa belajar sains, teknologi, rekayasa, hingga matematika secara langsung melalui praktik. Bahkan, pemberian pakan ikan sudah menggunakan sistem otomatis yang diatur waktunya, serta dilengkapi kontrol kualitas air seperti pH dan kadar zat terlarut,” jelasnya.
Selain akuaponik, SMA Negeri 2 Tanggul juga mengembangkan berbagai tanaman hortikultura dan buah-buahan melalui sistem tabulampot. Hal ini menjadi solusi atas keterbatasan lahan sekaligus sarana edukasi pertanian sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah.
Program ini telah menunjukkan hasil nyata. Dalam kurun waktu sekitar empat bulan, sekolah berhasil memanen ikan lele serta sayuran seperti sawi dan pakcoy. Sayuran hidroponik dapat dipanen dalam waktu sekitar 35 hari, sementara ikan lele siap dipanen dalam waktu sekitar dua bulan.
> “Alhamdulillah, hasilnya sudah bisa dipanen. Ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa karena mereka melihat langsung hasil dari proses yang mereka kerjakan,” tambahnya.
Ke depan, sekolah berencana mengembangkan program ini secara lebih luas dengan melibatkan siswa dalam proyek akuaponik berbasis kelompok di kelas masing-masing. Program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi keluarga yang memiliki keterbatasan lahan.
> “Harapan kami, pembelajaran di sekolah benar-benar relevan dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak menjadi lebih termotivasi belajar karena apa yang mereka pelajari bisa diterapkan dan memberi manfaat nyata,” pungkasnya.
Melalui Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan, SMA Negeri Tanggul 2 menegaskan perannya sebagai pusat edukasi dan inovasi yang tidak hanya mencetak prestasi akademik, tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan kepedulian terhadap ketahanan pangan sejak dini.
( erman)
