Jember – Kondisi eks Asrama Mahasiswa Universitas Jember (Unej) di RW 20 Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, menuai kritik keras warga. Bangunan milik Universitas Jember itu dinilai dibiarkan terbengkalai, hingga memicu keresahan serius dan berpotensi mengancam keselamatan masyarakat sekitar.

Warga, khususnya di RT 01, mengaku hidup dalam kecemasan setelah beberapa kali hewan liar, termasuk ular berbisa, dilaporkan masuk ke rumah-rumah penduduk. Kondisi tersebut diduga dipicu oleh semak belukar dan bangunan rusak yang tidak terawat di area eks asrama.
Perwakilan warga RW 20 sekaligus jurnalis investigasi Media Pemerhati Korupsi (MAPIKOR), Athok Humaidy, menyampaikan bahwa pihak kampus telah mengetahui persoalan ini sejak lama.
“Pada 11 November 2025 pukul 08.00 WIB sudah dilakukan pertemuan dengan Kepala Biro Umum, Kepala Biro Hukum, dan Kepala Biro Humas Unej. Namun sampai hari ini, pembersihan belum dilakukan secara tuntas,” ujar Athok kepada wartawan.
Athok menilai, keterlambatan penanganan tersebut patut dipertanyakan, mengingat lokasi eks asrama berada di tengah pemukiman padat penduduk.
“Ini bukan sekadar persoalan estetika. Jika kondisi ini terus dibiarkan, risikonya langsung menyentuh keselamatan warga. Fakta di lapangan, ular berbisa sudah beberapa kali masuk ke rumah warga,” katanya.
Ia juga menyebut adanya kekecewaan warga terhadap kinerja pengelola aset kampus. Menurutnya, berbagai penjelasan yang disampaikan pihak terkait belum diikuti tindakan konkret, sehingga menimbulkan kesan pembiaran.
“Kami mendengar banyak alasan, tapi warga menunggu tindakan. Selama tidak ada pembersihan total, keresahan tetap ada,” ucap Athok.
Terkait langkah lanjutan, Athok menyatakan warga sedang mempertimbangkan upaya administratif ke tingkat yang lebih tinggi. Ia menyebut pihaknya telah mengantongi surat pengalihan dari Dirjen Pendidikan Jawa Timur, yang dapat digunakan jika tidak ada solusi nyata dari Universitas Jember.
“Kami berharap langkah ini tidak perlu ditempuh. Namun jika sampai akhir bulan tidak ada pembersihan menyeluruh, warga akan menggunakan jalur yang tersedia secara resmi,” ujarnya.
Athok juga meminta Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, untuk memberikan perhatian langsung terhadap kondisi aset kampus tersebut.
“Kami berharap pimpinan universitas melihat persoalan ini sebagai tanggung jawab institusional, bukan sekadar urusan teknis,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Jember belum menyampaikan keterangan resmi. Redaksi masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak terkait.
( red)
