JEMBER, 8 Desember 2025 – Tradisi dan solidaritas komunitas tetap menjadi pilar kehidupan masyarakat Jember, terlihat jelas pada acara slametan 1000 hari wafatnya almarhumah Ibu Suntiyah, ibunda Bapak Markuat, Ketua Komunitas Ban/Perseban. Acara digelar bersamaan dengan pertemuan rutin komunitas di kediaman Bapak Markuat, wilayah Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Rabu malam.

Prosesi slametan atau nyewu berlangsung khidmat, dipimpin Ustadz Mawi dari Gumuk Bago. Puluhan anggota komunitas yang sehari-hari sibuk di dunia bengkel dan bisnis ban duduk bersama, melantunkan doa dan tahlil. Kehadiran mereka menunjukkan solidaritas tinggi, menegaskan bahwa komunitas bukan sekadar wadah profesi, tetapi keluarga kedua yang siap mendukung dalam suka maupun duka.
“Ini hajat keluarga kami sekaligus kesempatan silaturahmi dengan anggota komunitas,” ujar Bapak Markuat, yang akrab disapa Pak Kua.
Usai doa bersama, pertemuan rutin komunitas tetap dilanjutkan. Agenda membahas fluktuasi harga ban, strategi pemasaran, serta rencana kegiatan sosial berikutnya. Wakil Ketua Widi Bahtiar mengatakan, “Biasanya kita bertemu di tempat netral, tapi kali ini di kediaman ketua yang sedang berduka. Ini menunjukkan solidaritas kami mendukung Pak Markuat dan keluarga.”

Acara ini menjadi contoh harmonis antara tradisi Jawa dan aktivitas organisasi modern. Di tengah hidangan khas slametan, tawa, canda, dan diskusi serius berjalan beriringan. Kediaman Bapak Markuat semalam menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual, menegaskan bahwa nilai kekeluargaan dan solidaritas komunitas tetap menjadi denyut nadi masyarakat Jember.
( laili black)
